Senin, 16 Maret 2015

[PUISI II] Pesona Kejujuran

PESONA KEJUJURAN 

 Karya : Raymond Liauw

Awan kelabu pertanda mendung
Hujan ke bumi tak terbendung
Bukan lagi kabar burung
Tiada rahasia dalam tempurung
Sungai mengalir dari hulu ke muara
Prahara datang tak terduga
Pikiranku berontak tidak menerima
Mendengar bibirmu berucap kata
Rasa panas api membara
Desah napas terbalut luka
Pengakuan menghentak jiwa
Bergelut antara ikhlas dan murka
Mimpi buruk tak pernah dinantikan
Hadir menjadi kenyataan
Walau kejujuran kadang menyakitkan
Butiran pesona tertabur dalam kepribadian

[ARTIKEL] Punahnya Kejujuran di Era Sekarang

Punahnya Kejujuran di Era Sekarang


Seiiring perkembangan zaman, di era globalisasi ini jarang sekali orang-orang yang memegang teguh kejujuran. Tak sedikit dari mereka yang berbohong entah apa modusnya. Ini tentu moral yang tak pantas ditiru.
Banyak sekali disekitar kita bahkan mungkin kita sendiri yang melakukan perbuatan tak baik alias berbohong. Contoh yang gampang saja di dunia pendidikan sangat rawan dengan hal ini. Ketika ulangan, ada siswa yang membawa contekan saat ulangan karena semalam belajarnya belum kelar(selesai) misal, karena ketidakpercayadiriannya akhirnya siswa tersebut memilih jalan pintas yaitu dengan membawa contekan padahal ini baru pertama kali untuknya. Dan kebetulan saja gurunya tidak melihat aksi kecurangan siswanya ini. Dalam benak siswa ini mungkin berpikir "Ah, enak juga membawa contekan tak perlu bersusah payah belajar. Lain kali jika ada ulangan aku bawa lagi saja, apalagi pas lagi ada ulangan ganda(sehari lebih dari 1 kali ulangan). Sangat menguntungkan sekali." Hal ini sangat buruk dan tak pantas dicontoh.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah ulangan, tes/ujian itu diadakan untuk mengukur seberasa jauh/ besar kemampuan kita menguasai materi yang telah diajarkan oleh guru. Apa karena ingin mendapatkan nilai yang bagus, sempurna. Ini bukanlah cara untuk mendapatkannya, caranya adalah dengan belajar dang berdoa. Cara yang instan akan mendapatkan dosa dan orang yang melakukan kecurangan apakah bangga dengan hasil/ nilai yang diperolehnya dengan cara instan itu? Jawabannya adalah TIDAK!! Tapi jika ada yang bangga dengan hasil yang diperolehnya dengan cara yang tidak baik itu, berarti orang tersebut benar-benar tidak tahu akan nilai religi atau nilai moral baik lainnya. Ini sangat memprihatinkan jika kita menatap ke masa depan untuk tanah air tercinta Indonesia. Siswa-siswa yang nantinya akan menjadi penerus bangsa mempunyai moral yang buruk. Bagaimana negara ini bisa maju jika para penerusnya saja seperti ini? Justru negara ini dekat dengan kehancuran. Bukankah cita-cita bangsa kita tinggi, luhur, sudah sepantasnya kita sebagai penerus harusnya mempunyai bekal yang cukup untuk menjadi penerus bangsa nantinya. Yaitu tentunya dengan menanamkan moral-moral yang baik salahsatunya dengan berbuat jujur. Apa salahnya jika berbuat jujur?
Hal ini tidak hanya terjadi dalam dunia pendidikan saja. Politik, Industri, dan lain sebagainya masih banyak.

NB : Semoga postingan ini bermanfaat^^ Terimakasih...

Sabtu, 14 Maret 2015

[PUISI I] Hati yang Terluka

Hati yang Terluka

Karya : Fe Ps.

Tetesan hujan yang berjatuhan
Tetap berdiri teguh untuk menunggu
Namun, semua hanyalah kekosongan semata
Semua hanyalah angan
Ketika diriku tau..
Kau telah menghilang,
pergi jauh untuk seseorang
Pupus sudah! hancur sudah! Semua..
Kini tinggal sayatan yang bersarang
Merobek, mencabik, membuat luka yang dalam
Sungguh dalam, dalam, tak terukur
Tak terbayangkan betapa luka diri ini
Ingin rasanya aku pergi ketempat yang bebas
Meluapkan segala gundah
Ingin kuakhiri sudah
Namun, apa daya diri ini lemah